Memesona Itu Menjadi Guru Honorer yang Open Minded? Harus Dong!

by Ika Hardiyan Aksari / 21 May 2017
"Mamaaaah, Bu Guru nakal!"

Pensil di tangannya di lempar ke arahku. Tangannya menggebrak-gebrak meja. Wahyu mengamuk hanya karena aku menegurnya. Bagaimana bisa aku diam saja membiarkannya asyik menggambar sedangkan teman-temannya berebut menjawab pertanyaanku?

"Maaf Mbak, Mas Wahyu tidak bisa 'disenggol' sedikitpun." laporku ke Mama Wahyu yang masuk kelas. Seminggu itu dia memang rewel banget di kelas. Maunya ditunggui Mama.

Aku sempat melanjutkan pelajaran, tapi tangisan Wahyu semakin menjadi saat Mamanya main tangan. Hah! Aku malah naik pitam. Aku keluar kelas, pergi ke kantor guru. Aku takut emosiku makin menjadi kalau terus-terusan di sana.



Malamnya, saat adzan maghrib berkumandang, aku baru saja pulang dari ngajar les privat. Kak Ghifa langsung berhambur ke arahku. Badannya memang lagi nggak fit. Makanya, agak sedikit rewel. Apa-apa harus bersamaku. Kalau sudah begitu, letih yang melanda harus dinomor sekiankan.

Belum juga Kak Ghifa terlelap tidur, tiba-tiba ada bunyi SMS dari HPku. Sambil nenenin Kak Ghifa, ku baca SMS tersebut. Mataku langsung terasa panas. Ada air mata yang menggantung di sana. Ingin rasanya menangis seketika.

SMS dari wali murid

"Lah kok ya gini amat jadi guru honorer?" batinku dalam hati.

Aku hanya menghela napas. Ku biarkan saja SMS itu. Ku silent nada deringnya. Kumatikan rasaku dan memilih untuk meng-istirahatkan jiwa dan raga agar tetap waras.

***

Enam hari full ngajar, rela meninggalkan anak di rumah, kamu tahu gajiku berapa? Rp 300.000/bulan. Demi mencukupi kebutuhan keluarga kecilku, aku cari tambahan sana-sini. Jungkir balik. Melelahkan. Tapi, kok ya gini banget jadi guru honorer! Seperti tak ada harganya!

Di mata masyarakat, guru itu dituntut sempurna. Tak boleh ada celah sedikitpun. Sekalinya melakukan kesalahan, sumpah serapah di mana-mana.

"Kayak gitu kok jadi guru."

Sumber: Google.com

Wajar kan, kalau di suatu titik, aku ingin resign dari profesiku saat ini. Berusaha mencari pekerjaan dengan gaji yang masuk akal. Lha gimana? Tuntutan demi tuntutan tak dibarengi dengan pemenuhan hak yang setimpal. Mana cukup gaji segitu untuk hidup sebulan?

Akhirnya, pola pikir segalanya butuh uang pun terpaksa tertanam dalam otakku. Apa-apa ku ukur dengan uang. Apalagi kalau ada tugas tambahan seperti, melatih lomba ini dan itu. Siap-siap sering pulang lebih siang tanpa ada perhatian es teh atau mie ayam pengganti makan siang. Padahal guru dengan gaji berjuta-juta juga nganggur. Why must me?

Bolehkan kalau aku jadi ogah-ogahan? Ogah ngajar, ogah buat administrasi kelas, sampai ogah melatih lomba.

***
Sampai suatu ketika,

Manusia memiliki alur kehidupan yang beragam. Ada penggalan-penggalan cerita yang digelar dengan gamblangnya. Peka kah naluri setiap orang? Itu kuncinya.

Pagi itu, bus kami sudah sampai di depan gedung serba guna milik pemkot untuk mengantar 2 anak lomba tenis meja yang mewakili kecamatan. Di dalam sudah mulai ramai. Anak-anak yang akan lomba sibuk mempersiapkan diri.

Tak lama, pertandingan demi pertandingan telah berlangsung. Semakin siang suasana di sana semakin panas dengan teriakan-teriakan penonton.

"Ayo, pukul kanan terus!" teriak seorang pelatih.

Di sana aku hanya diam dan mengamati rupa-rupa orang. Lagi-lagi aku bertemu dengan model guru yang harusnya disingkirkan dari dunia pendidikan kita. Guru jadul dengan sikap yang memalukan.

"Goblok! Harusnya ke kanan, malah kiriiii terus." tangannya sambil menoyor kepala muridnya.

Mendengar dan melihat guru sepuh itu memarahi muridnya, aku hanya tersenyum sinis. "Kasihan sekali kamu, Nak! Hatimu pasti terluka."


Baca juga: Si Miskin Dilarang Berprestasi

Di lain sisi, aku terheran-heran dengan sosok laki-laki dengan uban yang memenuhi kepalanya. Pembawaannya santai, tak banyak mulut-teriak-seperti pelatih lain. Sesekali iya hanya menyemangati anak didiknya,

"Ayo, Nduk, kamu pinter banget. Bisa! Bisa! Yakin, Nduk."

Anak yang diteriaki tak bergeming, tetap fokus pada bola yang ada di depannya. Ku perhatikan lawannya di semi final ini cukup tangguh juga. Padahal dari awal dia sangat mulus menggugurkan lawan-lawannya.

Set 1 dia kalah.

"Nduk, kamu kuat sekali. Kamu bisa, hanya saja kamu pahami kelemahan dia. Kalau bola di kanan, pasti dia sulit mengembalikan. Arahkan terus ke kanan. OK? Bismillah." Laki-laki yang ternyata kepala sekolah itu mengangkat tangan kanannya dan mengajak anak didiknya untuk tos. Sebelum kembali ke mejanya, anak tersebut mendapat kecupan restu yang tulus dari pelatihnya. Wow!

Reli-reli panjang dilewati oleh anak tersebut. Penonton bersorak-sorak, ramai sekali. Wajah pemain yang sedang bertanding tampak sangat sengit. Tak ada yang mau mengalah.

"Kamu bisa, Nduk. Bisa. Bismillah." teriak laki-laki beruban itu.

Bu Ika ikut menyemangati
Sumber: https://inadwiana.files.wordpress.com

Sembari menyaksikan pertandingan yang bikin gerah badan ini, aku kepo sama tim guru yang juga mengantar anak didikan kepala sekolah di atas.

"Memang bapak kepala sekolah sendiri yang mendidiknya. Setiap hari dijemput di rumah anak itu, kemudian di bawa pulang ke rumahnya (jarak sekolah-rumah sekitar 30km).  Di rumah ya latihan. Seperti di karantina gitu, Mbak. Paginya berangkat sekolah lagi. Di sekolah ya latihan. Seperti itu terus." cerita dari salah satu mereka.

Aku yang mendengar hanya melongo. Yakin? Ada ya guru yang seperti itu? Merelakan harinya untuk mendidik muridnya? Apalagi beliau kan jauh rumahnya. Masih sempat? Lah aku?

"Sedikit lagi, Nduk." kurang 1 skor lagi, anak tersebut menang. Tapi, itu tak mudah. Reli panjang harus dilewatinya sampai akhirnya pukulan terakhir nyaris terkena net dan...

"Waaaaaa......!" semua penonton berteriak seakan terhanyut melihat pertandingan yang luar biasa.

Anak itu langsung berlari ke arah bapak kepala sekolah dan memeluknya. Kemudian mereka bersujud bersama. Ada air mata syukur di sana. Anak itu menangis tersedu.

"Menangislah. Setelah ini kamu akan berjuang lagi." kepala sekolah itu memeluknya erat.

Aku yang melihatnya ikut meneteskan air mata. Bukan hanya aku, hampir semua yang melihatnya. Dadaku bergetar. Ya Allah, sebegitu besar perjuangan mereka. Sebegitu mulia bapak kepala sekolah itu. Beliau tampak begitu menyayanginya. Seperti rasa sayang seorang ayah ke anaknya.

Luar biasanya lagi, 2 anak yang dikirim bapak kepala sekolah itu, laki-laki dan perempun, menang, dan akan mewakili kabupaten kami lagi ke tingkat provinsi. Seperti tahun lalu.

"Didiklah muridmu dengan cinta dan ketulusan hati. Maka, kamu akan mendapatkan lebih dari apa yang kamu tahu."

Itulah yang kudapat dari sosok kepala sekolah itu. Kalau dipikir-pikir, beliau punya jabatan, bisa lah ya menyuruh anak buahnya untuk melatih. Tapi, tidak, beliau tidak gila jabatan. Meskipun sudah jadi pimpinan, beliau tetap menyadari bahwa tugasnya yang sebenarnya adalah sebagai guru, yang mengayomi, membimbing, dan memberikan teladan.

Bisakah aku setulus bapak itu?

***

Bu Ika sedang belajar bersama anak-anak

"Bapak itu bisa, kenapa aku yang muda nggak belajar darinya?"

Allah sepertinya ingin mengujiku setelah mendapat pelajaran dari bapak kepala sekolah yang luar biasa itu. Karena apa? Aku ditunjuk sama pimpinan untuk melatih anak didikku dalam rangka lomba baca puisi.

"Siap, Bu." jawabku mantab.

Terserah akan ada uang lelah atau tidak, ada mie ayam dan es teh atau tidak, aku sudah mengesampingkan semua itu. Aku sudah bertekad bahwa profesiku saat ini adalah ladang ibadahku.

Selama ini, aku selalu mengukur segalanya dengan uang, tapi apa yang kudapat? Hanya lelah yang tak berujung. Keluargaku terkena amukan tak tentu arah dariku. Memprihatinkan.

Hanya dengan waktu 2 minggu, selepas mengajar kelas 1, ku jemput Mbak Vivi untuk latihan. Lelah setelah mengajar tak ku gubris. Nyatanya, benar kata bapakku, saat ikhlas dan tulus yang melandasi, semua terasa enjoy-enjoy saja.

"Tumben semangat banget? Berapa sih uang pembinaannya?" celetuk teman sejawatku. Aku hanya nyengir saja.

Lagi-lagi ujian. Allah ingin tahu kesungguhanku. Waktu latihan berjalan tak semulus wajah Syahrini. Sering sekali Mbak Vivi mangkir latihan. Pernah juga lho ngumpet di kelas saat aku mencarinya. Atau malah nongkrong di kantin. Ah, namanya juga anak-anak. Kalau sudah seperti itu ku keluarkan jurusku, mendongengkan sebuah cerita yang kontekstual dengan keadaan saat itu.

"Pas Bu Ika seumuran kamu, pernah juga ikut lomba. Yang paling Bu Ika suka kalau ikut lomba itu bisa naik mobil bagus, dapat uang saku, kenalan baru, sampai makan-makanan yang belum pernah Bu Ika makan. Kalau nggak ikut lomba mana bisa seperti itu. Kan Bu Ika sama kayak kamu, dari desa."

Terharu ya?
Sumber gambar: Line.me

Mbak Vivi hanya diam memperhatikanku, matanya tampak berkaca-kaca saat aku bercerita,

"Pas Bu Guru menang lomba, kan pasti dapat hadiah berupa uang. Nah, uang itu Bu Ika berikan ke Ibu. Rasanya itu senang banget, Mbak. Meskipun masih kecil, tapi Bu Ika sudah bisa mencari uang karena prestasi Bu Ika sendiri. Mbak Vivi pasti pengen juga kan seperti itu?"

Dia hanya mengangguk dan menahan air matanya yang ingin jatuh.

Semenjak hari itu, Mbak Vivi semangat sekali latihan. Tak ada acara penjemputan. Setiap kali kelas 1 sudah pulang, dia langsung apel ke kelasku. Biasanya, dia juga ikut membantuku menyapu kelas baru kemudian latihan bersama.

Beginikah rasanya mendidik dengan hati?

***
Deg! Deg! Deg!

Jantungku berdetak kencang. Sudah lama aku tak merasakan detak jantung seperti ini. Terakhir, jantung ini berdetak sangat kencang saat aku sidang skripsi, 3 tahun yang lalu.

Mulutku komat kamit. Ayat suci Alquran meluncur begitu saja demi menenangkan jiwaku. Ingin rasanya duduk saja, tapi aku ingin melihat Mbak Vivi tampil. Kakiku gemeteran. Keringat dingin keluar. Sungguh, aku berusaha sekali mengendalikan diri.

Parfum yang ku pilih dari warna bunganya, ungu. Ternyata baunya memang pas di hidungku.

Untung saja tadi aku sudah pakai parfum andalanku, Vitalis Body Scent Bizarre. Kalau nggak, bisa mati gaya deh karena bau keringatku yang keluar dengan bebasnya. Apalagi di tempatku berdiri juga berjejer guru-guru lain yang ingin melihat penampilan anak didiknya.

"Jadi, kayak gini ya kalau nganter anak didik lomba? Siapa yang bertanding, eh, siapa yang gemeteran nggak jelas." mulutku kembali komat-kamit.

Melihat penampilan Mbak Vivi yang tidak mengecewakan, aku sedikit lega. Ku acungkan jempolku dari luar jendela saat ia mencari keberadaanku. Senyumnya mengembang.

Sambil menunggu juri menghitung nilai peserta lomba, aku segera berlari ke kamar mandi. Setelah BAK (saking gemeteran, hihi), ku semprotkan parfum Vitalis Body Scent Bizarre yang selalu ku bawa dalam tas ranselku. Seketika wangi bunga-bunga menawan dari violet, lotus, blackcurrant, sandalwood, dan marine menyebar ke sekelilingku. Ku hirup aroma khas parfum ini, dan ku hembuskan lewat mulut. Ku ulangi sampai 3 kali, hingga jantungku sedikit mereda.

Bu Ika dan parfum pilihan

Sesampainya di depan ruangan lomba, semua pendamping peserta lomba dipersilahkan untuk masuk. Karena hasil penilaian akan segera diumumkan.

Jantungku berdetak kencang lagi. Aku juga semakin gemeteran. Telapak tanganku terasa dingin sekali. Bahkan lebih dingin dari telapak tangan Mbak Vivi yang ku genggam saat itu. Pokoknya saat itu aku pasrah saja. Mau juara atau tidak, kalau bisa ya juara. Hihihi.

"Bu, Bu Ika wangi." Masih sempat ya ini anak menghiburku. Tahu kali kalau gurunya lebih tegang daripada dirinya sendiri.

Ternyata firasatku benar, nama Mbak Vivi dipanggil sebagai juara 1 lomba baca puisi tingkat kecamatan. Aku melonjak bahagia.

"Selamat, Nok, selamaaat ya." ucapku sambil memeluk Mbak Vivi sesaat sebelum ia maju untuk ambil piala. Aku cuek saja saat semua mata orang yang ada di dalam ruangan tersebut menatapku aneh.

Mbak Vivi dengan pialanya

Huh! Rasanya luar biasa. Bahagia, puas, dan bangga bercampur aduk jadi satu. Beginikah rasanya mencetak juara dengan cinta? Beginikah perasaan bapak kepala sekolah itu? Kenapa baru sekarang bertemu dengan bapak kepala sekolah itu?

Inilah diriku yang sebenarnya. Diriku yang berhasil mengalahkan keadaan dan mengubahnya menjadi sebuah prestasi. Ya, aku berhasil melatih Mbak Vivi sebagai juara.

Seandainya saja aku tak bertemu bapak kepala sekolah itu, mengacuhkan nasihat bapak, dan mengikuti hawa nafsuku saja, entah jadi apa diriku ini? Berpikiran terbuka (open minded) lah yang mengantarkan aku sampai saat ini.

Open minded artinya aku bisa menerima ide-ide baru, pengalaman-pengalaman baru, atau pun informasi baru yang ku dapat dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan saja, kalau di otakku hanya berorientasi dengan duit-duit dan duit, aku tak akan bisa mengaktuliasasikan diriku, seperti ceritaku di atas.


Bagaimana caraku agar tetap open minded, apalagi aku ini seorang guru honorer dengan gaji yang pas-pasan?

1. Sadar bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Menjadi guru adalah pelayan masyarakat. Sebaik-baiknya pelayan masyarakat adalah mereka yang memuaskan masyarakat itu sendiri. Seperti SMS wali murid di atas, bisa jadi saat mengirim SMS tersebut pengirimnya dalam keadaan emosi. Jadi, tak perlu menanggapinya dengan emosi pula. Lebih baik didiamkan terlebih dahulu, diselesaikan lain hari. Kalau bisa tidak lewat SMS atau telepon. Datang ke sekolah akan lebih baik dan jelas duduk perkaranya.

Kasus lainnya, saat aku ditunjuk oleh pimpinan untuk melatih lomba, tidak berpikiran, "Kan yang gajinya besar juga ada, kenapa harus aku?" Berpikirlah positif. Pimpinan menunjukku bisa jadi karena menurut beliau aku punya kemampuan di bidang tersebut. Memang benar seperti itu sih. Kenapa dari dulu nggak punya pikiran seperti ini ya? Hiks.

Penting juga bagi kita mengetahui kelebihan yang kita miliki. Siapa tahu dengan kelebihan yang kita miliki bisa menjadi ladang penghasilan yang lain, di luar menjadi guru honorer.

2. Fokus pada kebaikan orang lain. Sebaik-baiknya seseorang, kalau melakukan 1 kesalahan saja, ya yang diingat kesalahan itu tadi. Tapi, jangan! Kembali ke poin 1, bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Kalau kita fokus pada kebaikan seseorang, kita nggak akan ada waktu untuk mencela-nya. Rugi hidup kita kalau hanya ngomongin orang. Lebih baik melakukan sesuatu yang lebih produktif dan bermanfaat. Apalagi kalau bisa menghasilkan uang tambahan.

3. Orang lain lebih baik dari kita. Jangan pernah berpikiran kalau, "Aku nih paling bisa soal baca puisi." Aku pernah lho punya pemikiran seperti itu. Sombong, padahal lomba baca puisi juga baru sampai provinsi, itupun kalah. Hihihi. Tapi, saat mengantar lomba anak-anak, aku jutru banyak bertemu dengan orang baru dengan ilmu yang baru pula. Ternyata, ilmu yang selama ini ku pelajari dan praktikkan ke anak-anak, tak semua benar. Nah, kan?

4. Haus akan ilmu. Kalau ini dalam agama pun juga digembor-gemborkan ya. Belajarlah sampai liang lahat. Menjadi guru itu pekerjaannya berada dalam zona nyaman banget. Kerjaannya ya itu-itu saja. Sekali-kali pelajarilah ilmu lain, profesi lain, pokoknya yang di luar keseharian kita. Misalnya, jadi penyiar radio, blogger, peternak, dll.

5. Maksimalkan kemampuan. Jangan saat ditunyuk baru menampakkan diri! Hihihi...aku banget nih. Tunjukkan kemampuan yang kita miliki. Karena dengan sering kita tunjukkan dan aplikasikan kemampuan kita, maka akan semakin terasah. Sepertiku, katanya ahli baca puisi, kalau kemarin nggak ikut mengirimkan anak buat lomba, mana tahu kalau ternyata ada teknik membaca puisi yang ternyata salah tapi selama ini tetap ku gunakan?

6. Banyak bersosialisasi. Semakin banyak bertemu dengan orang akan semakin banyak pula hal yang ternyata kamu belum ketahui. Perhatikan dan kalau perlu catat apa yang belum kamu pahami kemudian cari tahu lebih banyak hal tersebut. Nantinya, kamu akan merasa semakin kecil dan tak berarti apa-apa jika dibandingkan orang lain. Di luar sana banyak orang yang lebih segalanya dari kita.

Kesimpulan,
Saat aku dapat mengaktualisasikan diriku, menemukan jati diriku sebagai guru yang sebenarnya, dan dapat mengalahkan keadaan, di situlah aku merasakan yang namanya #MemesonaItu. Bagaimana caraku agar semua itu tercapai? Dengan cara selalu berlatih untuk memiliki open minded. Karena sadar tidak sadar, kita hidup bermasyarakat selalu bersinggungan dengan hal-hal baru. Kalau kita tidak cerdas dalam menyikapinya, sama saja hidup kita seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan. Tak jelas rimbanya akan menepi di mana.

Kalau kamu, apakah sudah open minded dalam menyikapi kehidupan ini? Atau kamu termasuk orang yang kolot? Nggak kan?