Tenggelam Dalam Tentram Di Pantai Senggigi , Lombok

0 share
by Andre Salmon Zalukhu / 15 May 2016

                             

                                Pantai Senggigi , Lombok ( Sumber  : roompoetry.blogspot.co.id )


Riak air ku dengar, awalnya senyap, perlahan dera nya menguat, membangunkanku  . Deru gulungan ombak yang bermain manja dengan temannya, saling mengejar , begitu nyata di telinga, refleks menenangkan hati. 



                                                           Sumber : Initempatwisata.com



Kelopak mata terbuka separuh, langit kemerahan menjelma nyata, begitu luas, begitu indah, hamparannya yang gagah terekam dalam lensa , aku berkedip berkali-kali, sedikit cemas apakah ini cuma halusinasi belaka, apakah aku sedang terdampar di dunia imajiner , hanya alam mimpi yang menyajikan pemandangan tak biasa , atau aku sedang berhalusinasi terlalu jauh , larut dalam insepsi karena berbagai bacaan film berpiciskan panorama alam yang sering ku saksikan.



                                                                  Sumber : Twitter.com


Ku alihkan pandangan ke karpet bumi, menyampingkan kepalaku,  dimana ini ?  



                                                                Sumber : Kaskus.co.id 


Tak sadar aku tertidur di hamparan pasir putih keemasan yang tersemai oleh senja , binar sang bola pijar di angkasa yang hendak tidur sejenak dari rutinitasnya yang panjang. Aku hiraukan kecemasan kecil tadi, bila  ini halusinasi, ataupun insepsi , biarlah semua bagian itu mendukung sajian alam yang aku lihat, tak masalah , karena ini begitu indah, aku sangat menikmatinya. Pertama kali aku melihat semuanya ini dalam kondisi jasmaniah, langsung di depan mataku.


                                                                   Sumber : flickr.com


Pasir putihnya ke genggam, aku melebarkan jemari ku , lalu meremasnya , rasa nya sangat lembut. Aku tak pernah memegang pasir selembut ini, yang pernah hanyalah pasir yang digunakan oleh kontraktor untuk membangun rumah . Pasir semen, ya pasir semen !



                                                               Sumber : Wallpaper.zone


Tapi sensasi ini, seumur hidup belum pernah ku alami. Aku membuka mata lebar, langit begitu luas, warnanya beragam, merah, jingga, dan biru tua,  mata ku tak sanggup melihat sampai ke ujung , ingin ku terbang dan menyapa kapas-kapas awan yang juga ada di sana, penghuni setia angkasa, sahabat setia sang langit. Terbang seperti burung. Punya sayap dan memeluk awan-awan itu.


Ah, sudahlah. Terlalu jauh aku menghayal , biarlah awan jadi panorama, bukan boneka kapas yang bisa dipeluk, kalau pelajaran fisika benar, beberapa awan mengandung muatan listrik yang akan menjadi kilatan petir dengan kekuatan satu miliar volt dalam satu sambaran, maka aku lebih baik berbaring di sini saja. Si awan terlalu angkuh. Cukup menikmatinya dari jauh .


Aku melebarkan kakiku . Gemericik air pantai ini menggoda, kadang ia menerpa ujung kaki ku dengan beberapa debit air, aku menggigit bibir sendiri, sentuhannya begitu dingin. Ia terus menghempas lembut , lalu malu-malu menarik diri , begitu seterusnya. Aku meladeni mereka , menggoyangkan kaki ku , ikut bergerak bersama mereka. Dingin memang, tapi kapan lagi aku bisa seperti ini, senyaman ini ?



                                                                 Sumber : Baltyra.com


Rasanya tak lengkap kalau hanya kaki.  Aku melebarkan juga kedua tanganku. Bahuku mengembang. Kedua tangan terentang ke atas , di kiri dan kanan. Aku lalu bergaya seperti yang pernah ku lihat di televisi, ketika pembawa acara menikmati pantai dengan cara yang aku rasa keren. Ia melakukan pose seperti yang aku lakukan, lalu kedua kakinya dan tangannya yang terentang , saling bergerak, seperti bintang laut , direntangkan,  ditutup, begitu seterusnya.


Hahhh, aku menghirup nafas panjang,  memejamkan mata , mencoba meresapi setiap suara gulungan ombak, meresapi semilir daun kelapa yang berbisik dibelai oleh angin senja, yang letaknya ada beberapa meter  di belakang ku , aku juga meresapi teriakan ceria dari anak-anak yang masih bermain di di tepi pantai ini , sangat lega rasanya. Beban pikiran seakan hilang, aku ... aku benar-benar merasa nyaman,  tenggelam dalam tentram.


Ku buka mata ini lagi dan menyaksikan kegagahan alam yang terhampar menyapa ku dengan ramah. Aku tersenyum, senyum lepas yang sangat jarang terukir , senyum penuh syukur, senyum... entahlah , tak dapat terkatakan lagi.



                                                            Sumber : Youtube.com ( Screenshot )


Siku dan pergelangan tangan ku juga mendapat terapi , ribuan butir, entahlah, aku tak bisa menghitungnya , menempel di pergelangan tangan dan siku ketika aku mengangkatnya. Aku menggertakkan gigi tak karuan , aku sedikit menggigil, pasir ini dingin sekali , meski begitu aku tidak mengeluh karena justru itu mendinginkan kepala ku, rasanya begitu..huuh, ini begitu nikmat.


Aku baru ingat kalau aku memakai jam tangan, aku mengangkat tanganku sedikit, menekuk siku, dan melihat jam tangan hitam karet yang ku gunakan. Ku perhatikan terus tiap jarumnya. Tidak ada pergerakan. Apa jamnya mati ? Ku coba untuk memukulnya beberapa kali. Aku ingin tahu jam berapa sekarang, untuk  menghitung mundur berapa menit lagi aku harus menanti sunset , aku tidak sabar menunggu momentum langka ini.


Tentu, aku tidak sabar menanti, ini adalah harapan tersirat yang tidak pernah ku ceritakan kepada siapapun, tidak orang tua ku, tidak juga ehm, sebut saja namanya Renata, pacar yang sudah mendampingi ku selama satu tahun empat bulan. Tunggudimana dia ?


Haah, jujur aku berharap dia ada di sini , menemani ku menikmati pesona alam yang terbentang indah , memercik rasa kagum,  begitu menghipnotis. Berdua bersamanya,  bahagia ku akan lebih lengkap. Di sini sendirian, aku sedikit kesepian.



                                                        sumber : isnewremaja.blogspot.com


Berbagi rasa, berbagai pencapaian, aku ingin bersamanya duduk berdua di pantai ini , suatu hari nanti mungkin,  kami bisa menikmati apa yang aku nikmati sekarang, saling bertatap, memandang matahari sore yang sama, dan menunggunya tenggelam , berdua larut dalam harmoni dengan eksotisme alam.


Memang, kadang aku sangat iri dengan beberapa temanku, apalagi di media sosial, ketika beberapa temanku menunjukkan foto nya di Pantai Senggigi, Lombok, atau Pantai Kuta, di Bali, atau yang lebih membuat mata ku begitu terbuka lebar adalah ketika mereka berpose dengan begitu meyakinkan, mengisyarakatkan kebahagiaan ketika menyelam di dalam Laut Bunaken, berfoto bersama ikan , terumbu karang, dan banyak lagi lainnya.


                                                             

                                                              Sumber : initempatwisata.com


Apalagi ketika mereka berpose seperti apa yang aku idamkan, berpose bersama pasangan mereka, duduk berdua di tepi pantai, makan ikan bakar berdua, huuh, kalau aku bayangkan hal itu lidah ku akan bergetar sendiri , cita rasanya , ummm, aku takut membayangkan nya, takut tidak bisa kelak memenuhi khayalan tersebut.



                                                               Sumber : lintasgayo.co


Sungguh sesuatu yang membuat iri , ketika mereka sudah mampu mengajak pasangan , saling memberi diri untuk membahagiakan dalam nuansa alam , kejar-kejaran di pantai, saling melempar pasir , mengukir nama di pasir seromantis mungkin, saling meneriaki nama dan membiarkan adrenalin keluar lewat suara, menyehatkan jantung, apalagi aku bisa membayangkan ketika bersama Renata ,aku mengajarinya berenang.


Wah, itu keren ! Renata memang tidak bisa berenang, sejak awal aku selalu memintanya supaya berlatih berenang, minimal tahu tidak perlu sampai mahir, tapi dia terlalu takut mencoba. Apalagi di kolam berenang , Renata bilang tidak bisa mengekspresikan dirinya, dia malu dilihat orang, padahal kolam berenang ya untuk belajar berenang. Yah, mau bagaimanapun kalau kesempatan emas itu datang, kalau akhirnya kami mendapat momen untuk berenang di pantai paling eksotis di Indonesia, tidak ada alasan untuk malu berenang.


Aku juga sudah menyusun direktori nama pantai yang akan kami kunjungi suatu hari nanti, dan daftar yang paling aku tunggu untuk didatangi adalah di Pantai Senggigi . Yaps, pantai yang seringkali jadi buah bibir, menjadi primadona wisatawan yang ingin melihat sunset , aku selalu berdoa semoga kesempatan itu datang.

Pastinya untuk mencapai itu, harus dengan memenuhi beberapa indikator seperti  mampu secara finansial , secara medan, dan secara kepercayaan. Aku harus bisa !



                                                             Sumber : gililombok.com


Dan bila berkaca pada diri sendiri, masih lah sulit untuk memenuhi tolak ukur di atas. Harus lebih giat lagi menabung, kalau pun tidak menabung aku berharap ada kesempatan dimana aku bisa mewujudkannya, entah itu dibayari kawan, haha, kalau ini sih sulit untuk terjadi, entah itu aku dapat uang dari saudara, haha, parah , kalau ini sih nominalnya juga sedikit, entah itu kerja sampingan , yang ini boleh juga,  atau yang lebih mungkin lagi kalau aku bisa menang kompetisi menulis.


Karena memang menulis adalah dunia ku . Menulis membuatku lebih hidup, dan kelak semoga aku bisa hidup dengan tulisanku. Semoga juga aku bisa ke sini karena menulis. Karena orang yang menghidupi karya nya, akan dihidupi oleh karyanya . Keren !


Kalau ada lomba yang memungkinkan aku ke sana, semoga Tuhan menjawab doaku. Aku akan berusaha dengan baik untuk menjadi pemenang. Demi pengalaman berkesan, perjalanan indah tak terlupakan. 


Untuk itulah , panorama yang ku lihat saat ini , entah ini mimpi atau tidak, aku merasa beruntung bisa mendapat pengalaman seperti ini. Kalau mata ini bisa bicara , ia pasti tidak ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Kalau mata ini bisa melihat tempat ini, benar-benar melihatnya,  ia pasti mengeluarkan air mata. Tangisan bahagia karena akhirnya kesempatan itu datang juga .



                                                         Sumber : lombok.panduanwisata.id


Menyaksikan langsung matahari tenggelam . Aku memang tidak pernah memberitahu mereka tentang keinginan ini, keluarga atau pun Renata,  tidak pernah ingin , aku selalu menyimpannya dalam hati, karena ketika aku mengatakannya kepada orang tua ,  aku takut curahan hati itu akan seperti meminta, dan kepada Renata , itu tidak akan jadi kejutan yang spesial suatu hari nanti. Karena aku ingin memberikan sesuatu yang istimewa berupa liburan yang tak terlupakan kelak untuknya .


Ya, semoga saja Tuhan izinkan aku menikmati itu suatu saat nanti.


Kalau ini saatnya, biar aku menikmatinya.


Wow ! Aku bergumam kagum. Tak ku sangka secepat ini. Orang-orang mulai mengalihkan fokus nya ke langit. Semua mata tertuju ke langit pantai. Ku lihat beberapa dari mereka menunjuk langit , dan beberapa orang tampak bicara seperti sedang menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada orang di sampingnya. 


Ku lihat juga beberapa wisatawan asing bersama pasangannya berdiri, mereka saling merangkul, menunggu matahari tenggelam. 


Aku alihkan fokus ku, kembali melihat apa yang mereka melihat. Mataku terbalalak. Saat yang paling ditunggu-tunggu, sunset.  Aku bangkit, berdiri , tidak ingin kehilangan momen ini. Angin transisi mulai datang entah dari mana . Aku bisa bisa merasakannya, begitu sejuk, menerpa mukaku, dan ketika hembusan anginnya menyentuh kaki dan pergelangan tanganku yang sejak awal basah , maka dapat dibayangkan bagaimana sejuknya di bawah langit merah ini .



                                                        Sumber : Jelajahnesia.blogspot.com


Aku menangis. Pertama kalinya dalam hidup ku, aku melihat sunset , di pantai yang begitu eksotis. Pantai yang sepanjang mata memandang menawarkan hal-hal baru, hal-hal paling mendebarkan jantungku, melipatgandakan rasa kagumku, begitu cantik, begitu berkharisma.  


Dia mulai tenggelam, sang mentari mulai meninggalkan kami di sini, menit demi menit sampai sinarnya habis , tidak lagi mendominasi pupil mata.


Hari sudah malam. Dingin semakin menjadi. Aku harus segera mencari tempat penginapan.


Rasa Tak Percaya  


Jam tanganku mati, tapi tak masalah. Aku bisa meminta tolong kepada orang di sini. Sebagai sesama pengunjung , keramahan adalah yang utama, sifat saling mendukung, apalagi ini Indonesia , negerinya orang timur , yang terkenal dengan keramahannya.


Tunggu,  Ada beberapa orang yang berjalan. Aku menghampiri seorang bapak, perawakannya tidak terlalu tua, badannya tidak terlalu tinggi, kulitnya sawo matang, dengan sedikit kumis dan pakaian kaos khas pantai , ia kalungkan sebuah kamera di lehernya, tampaknya ia wisatawan lokal.


“ Mas  “  , aku menepuk bahunya.


“ Iya ? Ada mas ? “ , ia berbalik dan melihatku.


“ Oh ya, mas ini dimana ya ?” tanya ku tersenyum.


Ia melihatku dengan heran. Matanya menyelidik. “ Masa , mas gak tahu ? Ini Pantai Senggigi. Loh, mas bisa ke sini tapi gak tahu. Gimana ceritanya ?  “, ia menyipitkan mata melihatku.


“ Serius, Mas ?


“ Iya, mas kok ekspresinya gak percaya begitu ? Mas ini dari mana ? “, ia memandang ku dari atas ke bawah.


Aku terdiam beberapa menit. Pantai Senggigi ? Benarkah matahari tenggelam yang ku lihat tadi adalah di Pantai Senggigi ? Ini, apakah ini ... aku tak percaya aku berada di Pantai Senggigi. Pantai Senggigi ? Aku berada di Pantai Senggigi ? 


“ Oi, Mas , kok melamun ?”


“ Oh, enggak. Ya sudah , makasih ya mas “ , aku tersenyum , dan pergi ke tempat lain, mencoba mencari merenungkan apa yang sebenarnya terjadi.


“ Ya sudah , selamat jalan , mas “ , serunya .


Aku cuma melambaikan tangan. Aku heran , mengapa aku bisa di sini. Hanya pakai kaos , celana pendek, tanpa handphone, tanpa jam tangan, tanpa uang, alat pengenal, astaga ! Bagaimana ini ? Pantas saja tadi bapak itu keheranan. 


Aku pun beranjak, memperhatikan sekitar tetap dengan rasa tidak percaya, aku menyusuri garis pantai , melihat mana penginapan yang aku rasa cocok . Pantai Senggigi, bagaimana mungkin ? aku berbisik dalam hati. Aku berjalan terus, semakin lama aku mulai lelah, sangat lelah, karena penginapannya banyak yang penuh.


Ketika aku berjalan dalam keadaan sempoyongan , karena haus dan kelelahan,  tak sadar aku mencium sebuah aroma. Aku mencium aroma yang sangat memikat. Aroma yang khas dipakai seseorang yang dekat denganku . Aroma ini, tidak asing lagi ini , ini aroma yang sering di pakai Renata.  


Tanpa aba-aba, tenaga ku terisi lagi, Entah mengapa aku jadi begitu bersemangat. Aroma ini memperkokoh langkah kakiku untuk tetap berjalan. Aromanya begitu kuat, aku menyurusi pantai ini lagi, mencari sumber aroma ini.


Ketemu ! Aku melihat seorang wanita. Aku mendekatinya, dia membelakangiku.


“ Renata !” , panggilku bersemangat .


 “ Maaf ? “, ia berbalik. 


“ Oh, aku kira , kamu Renata ?”


“ Oh, bukan. Nama saya Milena “


“ Maaf kalau begitu “


“ Iya , tidak masalah , salam kenal “ , kami bersalaman. 


Aromanya khas, benar-benar membuat pikiranku kembali segar, aku kembali bersemangat untuk melanjutkan pencarianku. Ternyata, di tengah lelah, dalam kesendirian seperti ini, ketika aku hampir putus asa, aroma parfum khasnya, mengisi kembali semangat dan asa ku. Aku terus bersemangat mencari, sampai bersemangatnya aku berlari-lari di pantai itu, semarak begitu mengisi diriku, sampai aku tersandung oleh sebuah batu , yang tidak aku lihat tertutupi pasir . Memang sial. Brukkk !   


Realita


“ Bang, bangun !”


Aku mendengar suara . Samar-samar, aku mencoba membuka mataku lebar.  “ Renata ? “


“ Bang, bangun ! “ , Renata menggoncangkan badanku.


“ Oh , abang dimana ? “ , aku terbangun, langsung duduk, terkejut, tiba-tiba aku sudah berada di kelas ku .


“ Abang mimpi apa tadi ? “, Renata mendekatkan posisi duduknya. 


“ Ini kan ruang kelas ? “


“ Iya. Abang ketiduran. Maaf ya lama, soalnya tadi ada tugas sekolah yang belum siap , tak sangka baru setengah jam menunggu, abang sudah tidur pulas di sini . Mimpi apa sih tadi ?  “


“ Hehe, kenapa tanya itu ? “


“ Soalnya tadi abang terus bilang Pantai Sengigi , Pantai Senggigi , Pantai Senggigi , itu-itu saja  “


“ Hehe, berarti tadi itu mimpi ya. Hahh, kirain beneran “ , aku tertawa kecil. Lalu aku merasakan sesuatu. Aroma khas Renata.


“ Kamu pakai parfum apa ? “


“ Vitalis Blossom  “


“ Aromanya segar ya ! ”


“ Iya, dong, Vitalis !” Renata menaikkan bahunya sebelah ke arahku. “ Wangi kan ?”


“ Iya, wangi. Kalau kelelahan , hirup aromanya jadi semangat lagi. Cocok kalau dipakai liburan “


“ Liburan kemana ?”


“ Ada “ , aku tertawa kecil mengingat mimpi tadi. “ Pokoknya kalau liburan dipakai ya ?”


“ Oke, aku memang selalu pakai parfumnya kok , bang “


“ Biar kalau lagi jalan-jalan , kesegaran kita berdua tetap terjaga, tetap semangat !”


“ Siap “ Renata mengangguk. “ Ya sudah, ayo bang kita pulang “


“ Ayo ! “  


Aku dan Renata bergegas pulang . Tak ku sangka, dalam mimpi aroma ini pun ikut terbawa. Namun aku bersyukur, aroma ini bisa mengantarku , jauh ke alam mimpi, melihat apa yang ingin aku lihat, merasakan apa yang ingin aku rasakan. Pesona Pantai Senggigi akan tetap istimewa, dan aku berdoa semoga bisa pergi berlibur ke sana, berdua dalam romansa bersama Renata .



“ Ayo, cepat jalannya “ , aku memanggil Renata yang berjalan lambat, tertinggal agak jauh di belakangku.  

Meski pun jarak beberapa meter aku bisa merasakan aroma khasnya.  Ketika aku menghirup aroma Vitalis Blossom, aku pasti kembali segar , aroma ini mengingatkanku tentangmu , rasanya seperti dekat denganmu.

Aroma parfum ini, Vitalis Blossom , adalah teman untuk setiap liburan ku dengan Renata, aku berharap kesegaran kami akan selalu terjaga , penangkal tiap lelah untuk perjalanan yang panjang. 



Semoga , kelak impian kecil ku itu bisa terwujud. Untuk merasakan kelegaan secara nyata, tenggelam dalam tentram di Pantai Senggigi. Amin. 



*** Diikutkan Dalam Lomba Blog " Vitalis My Exotic Vacation "