Segara Anak, tentang Wangi Bumi dan Sebuah Mimpi

9 shares
by Pungky Prayitno / 15 May 2016

Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Rinjani_Caldera.jpg


Aroma tanah basah membangunkan tidur pulasku pagi itu, subuh di Sembalun, desa tertinggi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kuhirup baik-baik lalu kusimpan dalam kepala untuk oleh-oleh yang dibawa pulang.


    “Senang mbak di sini?” Tanya Mbak Lia, pemilik penginapan kepadaku.


    “Banget, mbak. Suasananya syahdu, ini hal yang aku rindukan. Bahkan aku cari-cari selama ini,” jawabku sembari melahap sarapan yang ia sediakan.


    “Sayang ya waktunya sedikit, kalau lebih lama di sini, bisa naik ke Rinjani. Di atas sana ada danau Segara Anak, jauh lebih syahdu, lebih indah.”


    “Segara Anak?” Tanyaku.


    “Iya, Danau di tengah Gunung Rinjani. Di sana hanya kita, pepohonan, air berwarna biru, dan Gunung Baru Jari. Syahdu sekali!”


Percakapan pagi itu diam-diam menggali sebuah lubang di kepalaku, celah dimana aku menanam keinginan untuk kembali ke Lombok, naik ke Rinjani dan sampai ke Segara Anak. Sebuah tekad bulat yang kubawa pulang ke Purwokerto


***


Berbulan-bulan setelahnya, aku merelakan ingatan itu untuk pergi dari isi kepala. Rinjani itu jauh, pun biayanya tidak murah. Kami terpisah jarak satu kali perjalanan kereta api, satu kali penerbangan pesawat, dan dua setengah jam jalur tempuh mobil. Saat ini, aku harus menempatkan keluarga kecilku sebagai prioritas, maka melepas baik-baik keinginan untuk pergi ke Segara Anak menjadi sebaik-baiknya keputusan.


Sampai pada sebuah siang di Purwokerto, seorang temanku datang membawa botol putih biru berisi body scent. Vitalis Breeze, katanya. Aku mencoba menyemprotkannya ke tubuhku, lalu menghirup wanginya. Vitalis Breeze adalah kombinasi dari aroma bunga, kayu, dan dedaunan hijau. Wangi bumi. Aku memejamkan mata, tersenyum kecil, dan terbawa pada sebuah perjalanan yang diantar oleh wanginya.


Aroma ini membawaku pada sebuah tempat di ketinggian 2000mdpl. Sebuah danau dengan air biru yang dikepung bukit-bukit elok. Di ujungnya, berdiri gagah Gunung Baru Jari, yang puncaknya bernapas ringan khas strombolian. Lengkap dengan padang rumput hijau yang basah saat pagi.


Aroma ini mengantarku pada sepetak tanah dimana pagiku dibuka dengan semilir angin pegunungan, desir air danau dan anggunnya gerak pepohonan. Di langit, awan bearak-arak seakan mengajak berdansa Dewi Anjani. Menemani sarapanku dengan ikan bakar hasil tangkapan di danau kemarin sore.


Aroma ini memulangkanku pada sebuah celah di kepalaku. Ruang tempat aku mengubur dalam-dalam mimpi untuk pergi ke secuil surga di tengah Rinjani. Mengajakku duduk di tepinya, mengatupkan tangan, merapal doa, dan menyebut nama orang-orang terkasih. Karena aku selalu percaya, di tempat seperti itu Gusti akan terasa lebih dekat. Setidaknya doaku tak terhalang gedung-gedung pencakar langit, tak pula terkontaminasi asap kendaraan bermotor.


Aroma ini, menyadarkanku bahwa kombinasi aroma bunga, kayu dan dedaunan hijau adalah ingatan tentang Segara Anak. Impian yang terpaksa kutenggelamkan dalam jurang putus asa, palung paling pesimis, kemustahilan yang kuciptakan sendiri.


Sekali lagi, aku bernapas dalam dan membiarkan wangi Vitalis Breeze menguasai isi kepala. Membiarkan alam sadarku melakukan perjalanannya sendiri. Menuju Sembalun, naik ke Rinjani, sampai di Segara Anak.


    “Ini beli dimana? Wanginya enak” Tanyaku sembari mengembalikan botol Vitalis Breeze kepada pemiliknya.


    “Dimana-mana ada, kok. Di minimarket depan perumahan sini juga ada” Jawabnya sambil memasukan botol itu ke dalam tas.


    “Temani aku beli, ya? Aku mau punya satu” Balasku bersemangat.


Kulemparkan pandangan ke langit, pada angin sepoi, diam-diam kutitipkan sebuah permintaan untuk Tuhan. Tentang sebuah danau yang biru dan syahdu. Yang akan kunikmati dengan duduk berlama-lama, tanpa suara. Hanya aku, semesta dan doa.


Terimakasih Vitalis Breeze, seperti namamu, angin sepoi.. Terimakasih telah membawaku terbang jauh, mendarat pada sebuah kesadaran tentang kerja keras dan kepercayaan diri. Bahwa tak ada mimpi yang tak boleh dikejar, semua layak diperjuangkan. Terimakasih atas kombinasi aroma bunga, kayu dan dedaunan hijau. Kamu, telah mengantarku lebih dekat dengan Segara Anak. Sebuah tempat biru yang syahdu.